
Untuk kamu yang sedang bingung dengan kehidupan kamu, kenapa kamu ada, kenapa saya ada di sini, sepertinya kamu perlu melirik sebuah buku karya mbah-nya Inovasi, yaitu Clayton M. Christensen. Beliau terkenal dengan buku “Innvator’s Dilema” dan “Innovator’s Solutions”. Tapi di buku ini, beliau justru memberikan pembelajaran yang sangat penting bagi kita, yaitu tentang kehidupan itu sendiri.
Buku “How You Measure Your Life” adalah sebuah buku yang memberikan panduan tentang bagaimana kita dapat mengevaluasi dan mengukur kehidupan kita dengan cara yang bermakna. Buku ini menawarkan perspektif yang unik, menggabungkan konsep manajemen bisnis dengan prinsip-prinsip kehidupan pribadi.
Christensen mengemukakan bahwa kesuksesan sejati dalam kehidupan tidak hanya diukur dari prestasi materi atau posisi sosial kita, tetapi juga dari seberapa baik kita memenuhi tujuan dan nilai-nilai pribadi kita. Ia menekankan pentingnya menetapkan prioritas yang tepat dan membangun fondasi kehidupan yang kokoh.
Salah satu konsep utama dalam buku ini adalah teori “tidak terlalu banyak pekerjaan”. Christensen berpendapat bahwa seringkali kita terlalu terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang memakan waktu dan energi kita, sehingga kita lupa mengalokasikan waktu yang cukup untuk hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup, seperti keluarga, hubungan sosial, dan pengembangan pribadi.
Buku ini juga membahas pentingnya membangun hubungan yang kuat dengan keluarga dan orang-orang terdekat kita. Christensen menyoroti betapa pentingnya menginvestasikan waktu dan perhatian kita untuk membangun ikatan emosional yang mendalam dengan orang-orang yang kita cintai. Ia menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dan bahagia adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup.
Konsep Manajemen dalam kehidupan kita
Berikut adalah beberapa konsep manajemen yang dijelaskan dalam buku tersebut dan dapat diterapkan dalam kehidupan:
1. Tujuan yang melekat (intrinsic goals): Buku ini menekankan pentingnya menetapkan tujuan yang melekat pada nilai-nilai pribadi yang penting bagi Anda, bukan hanya tujuan yang didorong oleh dorongan eksternal seperti uang atau kekuasaan.
2. Teori motivasi diri (self-determination theory): Buku ini menggambarkan pentingnya membangun motivasi intrinsik dalam hidup Anda, yang didasarkan pada kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan hubungan sosial yang positif.
3. Teori pemasaran dan segmentasi pasar: Konsep ini diterapkan dalam konteks memilih pasangan hidup. Buku ini mendorong pembaca untuk memilih pasangan yang memiliki nilai-nilai inti yang sejalan dengan mereka, mirip dengan cara perusahaan memilih segmen pasar yang tepat untuk produk mereka.
4. Teori inovasi disruptif: Buku ini menerapkan konsep inovasi disruptif dalam pembahasan tentang bagaimana kita mengalokasikan waktu dan sumber daya kita. Penting untuk memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita dan menghindari terjebak dalam rutinitas dan kesibukan yang tidak memberikan nilai jangka panjang.
5. Teori manajemen risiko: Buku ini mengajarkan pentingnya mengelola risiko dalam kehidupan pribadi. Seperti dalam bisnis, kita perlu membuat keputusan dengan mempertimbangkan risiko dan mengambil tindakan yang cerdas untuk mengurangi risiko tersebut.
6. Teori inovasi berkelanjutan: Buku ini mendorong pembaca untuk terus berinovasi dan mengadaptasi diri dalam kehidupan pribadi. Seperti perusahaan yang perlu beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis, kita juga perlu terus mengevaluasi dan mengubah pendekatan kita untuk mencapai kehidupan yang memuaskan.
Selain itu, Christensen membahas tentang pentingnya menemukan tujuan hidup yang memotivasi dan memberikan makna bagi kita. Ia menekankan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi, tetapi juga dengan kontribusi positif yang kita berikan kepada dunia di sekitar kita. Dengan menemukan tujuan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai dan bakat kita, kita dapat merasa puas dan bahagia dengan apa yang telah kita capai.
In the long run, clarity about purpose will trump knowledge of activity-based costing, balanced scorecards, core competence, disruptive innovation, the four Ps, the five forces, and other key business theories we teach at Harvard.
Christensen, Clayton M.; Allworth, James; Dillon, Karen. How Will You Measure Your Life? (p. 205). HarperCollins. Kindle Edition.
Jangan Outsource pekerjaan yang seharusnya menjadi keahlian kamu!
Saya tertarik dengan salah satu bab yang berjudul “Sailing your Kids on Theseus’ Ship”. Dibuka dengan kisah Dell yang awalnya sangat hebat dalam mengelola supplya chain managementnya, namun karena godaan efisiensi dan adanya tuntutan dari pemegang saham, akhirnya Dell pun meng-outsource-kan keahliannya tersebut kepada Asus.
Christensen mengatakan bahwa terlalu sering, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam bisnis, kita cenderung meng-outsourcing atau menyerahkan aspek-aspek penting atau inti dari apa yang kita lakukan kepada orang lain atau pihak ketiga. Hal ini dapat mencakup tugas-tugas atau tanggung jawab yang sebenarnya menjadi keahlian inti atau kekuatan kita.
Dalam kehidupan pribadi, ini bisa berarti mengabaikan tanggung jawab penting seperti menjaga hubungan keluarga, menghabiskan waktu bersama anak-anak, atau merawat kesehatan pribadi. Kita mungkin terlalu fokus pada pekerjaan atau tuntutan lainnya yang sebenarnya bukan merupakan inti dari kehidupan kita.
Dalam konteks bisnis, outsourcing core competency dapat terjadi ketika perusahaan menyewa pihak ketiga untuk melaksanakan fungsi atau kegiatan yang merupakan keahlian inti perusahaan tersebut. Misalnya, perusahaan teknologi yang meng-outsourcing pengembangan perangkat lunak inti mereka atau perusahaan manufaktur yang meng-outsourcing produksi produk kunci mereka. Dalam jangka pendek, ini mungkin tampak seperti pilihan yang efisien, tetapi dalam jangka panjang, ini dapat melemahkan posisi kompetitif dan kemampuan perusahaan untuk berinovasi. Kisah Dell yang mengoutsourcekan prosesnya kepada Asus justru membuat Dell menjadi kehilangan posisi strategisnya dan digantikan oleh Asus.
Menurut Christensen, penting bagi kita untuk mengenali dan mempertahankan keahlian inti kita sendiri. Ini berarti mengambil tanggung jawab dan melibatkan diri secara langsung dalam aspek-aspek yang benar-benar penting dan sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup kita. Dalam bisnis, ini berarti mempertahankan kemampuan dan keahlian yang membedakan perusahaan kita dari pesaing, dan tidak meng-outsourcing aspek yang menjadi kekuatan dan daya saing utama kita.
Dengan tidak meng-outsourcing core competency kita, kita dapat memastikan bahwa kita memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting, membangun keahlian dan keunggulan yang berkelanjutan, serta memastikan bahwa kita memiliki kendali dan kualitas atas apa yang kita hasilkan atau capai.
Strategi itu bisa berubah lho!
Dalam buku ini saya juga tertarik dengan konsep deliberate strategy (strategi yang disengaja) dan emerging strategy (strategi yang muncul) digunakan untuk menggambarkan bagaimana seseorang dapat merencanakan dan mengarahkan kehidupan mereka. Diilustrasikan dengan kisah Honda di Amerika yang awalnya masuk ke pasar Amerika dengan motor besarnya tapi sesuai dengan perkembangan situasi, akhirnya Honda malah berjaya dengan Cub-nya.
Deliberate strategy mengacu pada rencana yang sengaja dibuat dan dijalankan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Analoginya dalam buku ini adalah ketika seorang manajer membuat rencana bisnis yang jelas dan mengikuti jalur yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks kehidupan pribadi, deliberate strategy merujuk pada pemilihan dan pengaturan tujuan hidup yang dipikirkan secara matang, dan kemudian mengambil langkah-langkah konkret untuk mencapainya.
Namun, buku ini juga menyoroti pentingnya emerging strategy, yaitu strategi yang muncul secara alami seiring berjalannya waktu dan pengalaman hidup. Analoginya dalam buku ini adalah ketika sebuah perusahaan menghadapi perubahan pasar yang tidak terduga dan harus menyesuaikan strategi mereka secara fleksibel untuk tetap bersaing. Dalam kehidupan pribadi, emerging strategy mengacu pada fleksibilitas dan adaptabilitas kita dalam menghadapi perubahan dan tantangan tak terduga dalam hidup. Terkadang, rencana yang kita buat tidak dapat sepenuhnya memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, dan kita perlu siap untuk menyesuaikan diri dan mengubah jalur kita sesuai dengan perubahan tersebut.
Buku ini menekankan bahwa, meskipun penting untuk memiliki rencana dan tujuan yang disengaja, kita juga harus terbuka terhadap perubahan dan peluang baru yang mungkin muncul di sepanjang jalan. Kehidupan seringkali tidak dapat diprediksi, dan dengan mengadopsi emerging strategy, kita dapat mengambil peluang yang tak terduga dan mencapai kehidupan yang lebih memuaskan dan bermakna.
Dengan menggabungkan konsep deliberate strategy dan emerging strategy, buku ini mengajarkan pembaca untuk merencanakan dengan bijaksana, tetapi juga memiliki keterampilan adaptasi dan fleksibilitas yang diperlukan untuk menghadapi perubahan dan menerapkan strategi baru sesuai keadaan. Ujungnya, jangan sampe kita punya strategi, tapi kita nggak menjalankannya dan beradaptasi dengan situasi dan kondisi.
You can talk all you want about having a strategy for your life, understanding motivation, and balancing aspirations with unanticipated opportunities. But ultimately, this means nothing if you do not align those with where you actually expend your time, money, and energy.
Christensen, Clayton M.; Allworth, James; Dillon, Karen. How Will You Measure Your Life? (p. 62). HarperCollins. Kindle Edition.
Tips Praktis
Dari buku ini saya bisa menyimpulkan beberapa tips praktis yang dapat kita manfaatkan agar kita bisa memiliki hidup yang lebih bermakna:
1. Tentukan nilai-nilai dan prinsip hidup: Mulailah dengan mengidentifikasi nilai-nilai inti yang paling penting bagi kamu. Pertimbangkan apa yang benar-benar kamu pedulikan dalam hidup, seperti keluarga, integritas, kebaikan, atau pencapaian pribadi. Menetapkan nilai-nilai ini akan membantu kamu dalam pengambilan keputusan dan mengukur keberhasilan hidup.
2. Tetapkan prioritas yang jelas: Jangan biarkan rutinitas sehari-hari dan tuntutan pekerjaan menguasai hidup kamu. Tetapkan prioritas yang jelas dan alokasikan waktu secara bijaksana. Pastikan bahwa waktu yang diinvestasikan sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup kamu yang paling penting.
3. Bangun hubungan yang kuat: Investasikan waktu dan energi untuk membangun hubungan yang bermakna dengan keluarga, teman, dan orang-orang terdekat. Jaga komunikasi yang baik, berikan perhatian yang tulus, dan cari cara untuk mendukung dan menghargai mereka. Hubungan yang kuat dan positif dengan orang-orang terdekat adalah sumber kebahagiaan yang utama.
4. Kelola waktu dengan bijak: Fokuslah pada hal-hal yang benar-benar penting dan berarti. Hindari terjebak dalam kesibukan yang tidak memberikan nilai tambah pada kehidupan. Buat jadwal yang efektif, tetapkan batasan waktu untuk pekerjaan, dan alokasikan waktu yang cukup untuk kegiatan penting lainnya, seperti waktu bersama keluarga, berolahraga, atau pengembangan diri.
5. Temukan tujuan hidup yang bermakna: Cari tahu apa yang benar-benar ingin dicapai dalam hidup dan apa yang memberikan makna bagi kamu. Temukan tujuan hidup yang menggairahkan dan memotivasi. Fokuslah pada kontribusi yang bisa kamu berikan kepada dunia sekitar, baik melalui karier, kegiatan amal, atau cara lain yang sesuai dengan bakat dan minat kamu.
6. Lakukan perubahan yang diperlukan: Jika kamu menemukan bahwa hidupmu tidak mencerminkan nilai-nilai dan tujuan kamu, jangan takut untuk melakukan perubahan. Berani mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki kehidupan dan mengarahkannya sesuai dengan visi yang kamu inginkan. Kadang-kadang, hal-hal kecil seperti mengatur ulang prioritas atau mengubah pola pikir dapat memiliki dampak besar pada kehidupan.
Secara keseluruhan, “How You Measure Your Life” adalah buku yang menginspirasi dan memberikan wawasan tentang bagaimana kita dapat membangun kehidupan yang berarti dan memuaskan. Buku ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam tentang nilai-nilai, tujuan, dan prioritas hidup kita, serta memberikan panduan praktis untuk mencapai kehidupan yang lebih memuaskan dan bermakna.
When I have my interview with God, our conversation will focus on the individuals whose self-esteem I was able to strengthen, whose faith I was able to reinforce, and whose discomfort I was able to assuage—a doer of good, regardless of what assignment I had. These are the metrics that matter in measuring my life.
Christensen, Clayton M.; Allworth, James; Dillon, Karen. How Will You Measure Your Life? (pp. 203-204). HarperCollins. Kindle Edition.
Closing menarik dari buku ini adalah ketika Clayton Christensen membungkus kesimpulan, bagaimana kita mengukur kehidupan kita, yaitu dengan cara membayangkan di hari akhir nanti, ketika Tuhan bertanya dan meminta pertanggung jawaban dari kita, apa yang kita lakukan untuk sekitar kita dengan memanfaatkan apa yang Tuhan titipkan kepada kita?
Apa jawaban kamu?


Tinggalkan komentar