Walk the talk: The Key to Leadership

Status hari Mahatma Gandhi bertemu dengan seorang ibu dan anaknya. Sang ibu mendatangi Mahatma Gandhi dan berkata: “Guru, tolong kasih tahu saya agar dia berhenti makan permen”. Mahatma langsung menawab, “baik, saya akan mengatakan ini kepada anak ibu, tapi tolong kembali enam bulan lagi”.

Setelah enam bulan, sang ibu kembali mendatangi Mahatma. “Guru, tolong kasih tahu anak saya agar jangan makan permen”. Mahatma pun bilang ke sang anak: “nak, mulai sekarang berhenti makan permen ya!”. Ajaibnya, setelah itu sang anak berhenti makan permen. Beberapa lama kemudian, sang ibu di kesempatan lain bertemu lagi dengan Mahatma. Sang ibu pun bertanya, “guru, terima kasih atas nasihatnya kepada anak saya. Yang guru katakan kepada anak saya waktu itu langsung diturutinya. Namun saya penasaran, kenapa nasihat sederhana itu tidak segera disampaikan saja ketika saya pertama kali bertemu guru?”.

Mahatma Gandhi pun tersenyum dan langsung berkata, “ketika ibu pertama kali datang kepada saya, saat itu saya masih makan permen. Saya tidak mungkin menasihati seseorang untuk tidak melakukan sesuatu yang saya masih melakukannya. Demikian pula sebaliknya, saya tidak akan menasihati orang untuk melakukan sesuatu yang saya tidak melakukannya. Anak ibu pasti tidak akan menuruti nasihat saya kalau saya masih makan permen saat itu.”

Kisah Mahatma Gandhi ini mengingatkan saya kejadian beberapa tahun lalu. Ketika saya melihat mengapa leadership di sebuah organisasi kok kurang kuat. Saya berhipotesis, bahwa leadership yang lemah di organisasi tersebut terjadi karena yang mengajari leadership di organisasi tersebut ternyata bukanlah leader yang kuat juga. Sering kita mendengar bahwa dosen-dosen di universitas mengajar kurang efektif, karena mereka hanya memahami teorinya saja, tapi tidak mempraktikannya.

Seorang teman juga pernah bertanya kepada saya, kenapa kok orang tidak berkonsultasi padanya. Padahal dia merasa dirinya resourceful alias memiliki banyak pengetahuan. Kenyatannya memang teman saya itu kalau mengajar cenderung menasihati dan satu arah. Yang lebih parahnya lagi, yang diajarkan cenderung hanya teori, bukan pengalaman. Padahal teman saya itu punya pengalaman segudang. Entah kenapa dia hanya tertarik untuk share pengetahuan dan teori saja, bukan pengalamannya. Banyak yang diajarkannya sesungguhnya tidak dipraktikkan olehnya sendiri. In short: nggak practice what you preach. Akhirnya saya berikan feedback yang cukup blunt: “Ya karena loe nggak walk the talk sih”.

Di moment lain dia juga bertanya kepada saya: “kok loe ngajarnya kata orang enak sih, apa rahasianya?” Saya pun merenung sejenak, karena saya nggak merasa enak mengajar. Yang saya lakukan hanyalah mengajar dengan hati. Enjoy aja. Dan akhirnya saya tahun apa rahasianya. Saya ngajarnya enak kalau mengajar dengan hati, Dan saya bisa mengajar dengan hati kalau saya pernah mengalaminya. Kalo saya ngajar hanya teori sudah jelas peserta nggak akan nangkep. Jadi akhirnya sekarang saya mulai pilih-pilih ngajar. Hanya yang saya praktikkan yang akan saya ajarkan. Termasuk change management, yang saya merasa belum mastering, tapi saya cukup punya pengalaman… Kala kegagalan… Hehehe.

Intinya, kita sebagai leader yang tugasnya adalah create other leader adalah menjadi guru bagi tim kita. Dan ketika kita menjadi guru, kuncinya adalah practice what you preach, walk the talk. Jangan sampe Omdo, alias Omong Doang, apa lagi stigma: do what I say, but don’t do what I do. Udah bubar deh kalo begitu.

Kembali lagi… Tulisan ini adalah nasihat buat diri saya sendiri.

Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑