You can’t lead others if you can’t lead yourself

“Frank, tolong bantuannya donk. Bantu saya untuk membenahi culture perusahaan ini. Tolong buat anak-anak jadi kompak dan berkolaborasi”, pinta Bimo kepada Franky. Dikenal sebagai dokter organisasi, dua minggu sebelumnya Franky mendapat telepon dari Untung, yang memintanya datang ke kantornya di bilangan sudirman untuk bertemu CEO Genuine inc, sebuah perusahaan jasa yang baru dibentuk 4 tahun sebelumnya.

Perusahaan yang dipimpin Bimo adalah perusahaan joint venture India dan Indonesia yang sebelumnya merupakan perusahaan lama yang sudah berdiri 10 tahun di Indonesia dengan nama yang sama dengan parent company India-nya. Karena sudah lama di Indonesia tapi tidak berkembang, perusahaan India tersebut akhirnya menggandeng Parent company di mana Frangky bekerja untuk membentuk sebuah JV. Dengan ambisi yang sangat besar, perusahaan ini mengambil talent terbaik di Industrinya, karena industri ini merupakan industri baru yang belum pernah dimiliki oleh parent company nya. Dengan demikian, talent yang ada sudah pasti tidak mungkin diambil dari internal. Secara teknis masalah solved, tapi sudah dapat diduga masalah ketika perusahaan banyak meng-hire professional hire: culture.

Dengan mengambil banyak talent “terbaik” dari perusahaan terbaik di industry nya, Untung sebagai HR head melihat bahwa setiap orang membawa bahasa dan gaya masing-masing perusahaannya. Walaupun perusahaan sudah memiliki core values nya, setiap orang membawa culture dan gaya kerja dari perusahaan sebelumnya. Untung juga berharap agar Franky bisa memecah kepusingannya menghadapi karyawannya yang agak sulit berkolaborasi.

Untuk memahami yang terjadi perusahaan, Franky mendekati beberapa key stakeholders, khususnya orang-orang terdekat Bimo. Mereka adalah orang-orang yang sangat berpengaruh, yaitu strategic management office, project management office, head of marketing. Ada hal yang menarik jika ngobrol dengan para leaders di perusahaan ini, ada statement yang cukup konsisten diucapkan: “di sini itu ya,…” selanjutnya di ungkapkah keanehan yang terjadi di perusahaan ini. Sampai Franky sempat berfikir, aneh banget ya, memang karyawannya ini diisi sama alien gitu, yang menjalankan perusahaan seolah-olah di planet lain yang asing? Nah, petualangan pun terjadi dengan interaksi yang unik dengan para stakeholder tersebut.

Strategic management office

Di Hari pertama bekerja di Genuine, Franky bertrmu Boy yang merupakan tangan kanan Bimo sebagai strategic management office, nama yang sesungguhnya terlalu berat untuk role nya sebagai pembuat materi presentasi Bimo agar keren di depan shareholder.

“Di sini anak-anaknya nggak mau extra mile, susah diatur. Ada juga yang gayanya sok hebat, tapi kenyataannya skill nya nggak ada apa-apanya. Company ini masalahnya besar banget, kayaknya nggak perlu lama perusahaan ini akan hancur”, ujar Boy berapi-api. Franky agak heran, kenapa kok Boy menjelek-jelekkan perusahaan ini, padahal dia termasuk “founding father” ketika perusahaan ini dibentuk.

Memang sebelum join perusahaan ini, nama Boy cukup notorious. Terkenal dengan mulutnya yang kejam dan senang menikam dari belakang. Tidak heran banyak yang enggan menjadi temannya. Orang hanya segan dengannya karena posisinya yang dekat dengan pemegang kekuasaan, hanya itu. Secara skill, memang dia sangat hebat dalam membuat materi presentasi dengan kata-kata yang sophisticated. Tapi jika kita menelaah lebih dalam strategi yang dibuat hanyalah sebuah fluff belaka. Ketika disosialisasikan kepada para leader, semua hanya bingung dengan apa yang disampaikan. Strategi yang diformulasikan ternyata tidak actionable, tidak jelas apa ukurannya, dasar penentuannya dan sebagainya. Di sini Franky melihat salah satu akar masalah culture terletak pada cara perusahaan memformulasikan dan mengcascade srtrateginya. Silo sudah “dibentuk” sejak awal., karena dalam perumusan strategi tidak ada kolaborasi di dalamnya.

Dalam salah satu diskusi awal dengan Boy, ketika membahas tentang culture, terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Boy akan membuatkan materi sosialisasi kepada para leaders dan berkonsultasi dengan Franky. Belajar dengan melihat materi-materi Boy yang penuh dengan jargon, Franky memberikan masukan agar materinya lebih membumi dengan kata-kata yang kongkrit. Tapi Boy tidak setuju, menurutnya materinya harusnya dengan konsep dan prinsip. Terjemahan perilaku biar diserahkan kepada para leaders. Singkat cerita, statement bahwa we agree to disagree lebih tepat dengan statement: you should agree with my statement, and I may disagree with yours. Boy sangat marah dengan perbedaan pendapat ini.

Dan tebakan Franky pun benar terjadi. Ketika materi tersebut dipresentasikan Bimo kepada para leaders, dan ketika setiap orang diminta untuk bicara, mereka menganggap apa yang dipresentasikan oleh Bimo sangat “high level” dan sulit dicerna dan diimplementasikan. Perlu penerjemahan lebih detail sehingga ini membumi. Tapi pada saat-saat itu, Bimo yang awalnya sangat ramah kepada Franky, terlihat mulai dingin. Entah triggernya apa.

Project Management Officer

Orang paling berkuasa kedua yang ada di Genuine.inc adalah Herman, yang mengendalikan semua strategic initiatives di perusahaan ini. Dia juga sangat dipercaya oleh Bimo, namun menariknya dia dan Boy bermusuhan satu sama lain. Berbekal kepercayaan Bimo atas dirinya, Herman menguatkan pengaruhnya bahkan kepada kepada C-level. Walaupun mereka memiliki jabatan yang lebih tinggi dari Herman, tapi mereka “takut” kepada Herman, karena kedekatannya dengan Bimo, karena Bimo lebih percaya kepada Herman ketimbang kepada para Chiefnya.

Herman memang orang yang sangat meyakinkan jika berbicara. Walaupun jika ditilik lebih lanjut, sesungguhnya pemahaman Herman akan apa yang dibicarakannya sesungguhnya tidaklah dalam. Tapi berbekal dengan pengalamannya di Industri serta kepercayaan diri dan pilihan kata yang sophisticated, membuat Bimo percaya kepada Herman.

Secara personal memang Herman adalah orang yang bebahaya. Dia, seperti halnya Boy, mampu menikam temannya sendiri di belakang. Ada dalam satu kejadian, ketika salah satu temannya -sebut saja Andre- membicarakan hal yang buruk tentang temannya yang lain -sebut saja Amri- melalui WA, Herman malah meng-capture omongan itu dan dikirimkan langsung kepada Amri. Sontak ini menimbulkan keributan di antara mereka.

Head of Sales

Tokoh lain yang menarik dalam perusahaan ini adalah head of sales: Boni, seorang yang hard driver, dan juga sama berbahayanya dengan Boy dan Herman. Dia adalah orang yang berpengalaman di Industri ini di bidang Sales, dan juga sangat dipercaya oleh Bimo. Dia bersahabat dengan Herman, namun juga berseteru dengan Boy. Karena pengalamannya, dan perusahaan sangat bergantung kepadanya, bahkan Bimo pun takluk kepadanya. Ada satu moment di masa lalu di mana Bimo datang ke meja Boni, memohon agar penjualan ditahun itu bisa diselamatkan oleh Boni. Sama seperti Herman, Boni juga bahkan menebar ketakutan di organisasi ini. Bahkan Chief of Marketing sebelumnya, yang merupakan atasan Boni, akhirnya resign karena tidak tahan dengan situasi organisasi ini. Itu terjadi karena Bimo lebih percaya kepada Boni ketimbang sang CMO.

Menyadari posisinya yang sangat kuat di perusahaan ini, Boni sering semena-mena dengan siapapun di perusahaan inni. Dia bisa saja menjatuhkan siapapun di meeting terbuka. Menariknya, Bimo terus percaya kepadanya, karena memang karakternya yang “pejuang”, selain juga karena dia memang sangat tergantung pada Boni. Sudah tidak terhitung orang yang resign akibat tidak tahan akan perlakuan Boni kepada mereka. Mereka juga melihat tidak ada harapan perbaikan culture di perusahaan ini karena Bimo sangat percaya kepada Boni.

Head of Marketing

Doni adalah seorang yang sangat jago di dalam marketing communication. Iklan-iklan yang dibuatnya dengan cepat membangun brand perusahaan sehingga awareness nya meningkat dalam waktu singkat. Berbekal pengalamannya di bidang ini ditambah dengan karakter drive-nya yang sangat tinggi membuatnya mampu untuk make it happen.

Sebagai orang dengan drive yang tinggi, Doni memiliki karakter “badak”, yaitu ekseskusi dengan segera yang direncanakan. Dia tidak peduli dengan orang lain, termasuk timnya, yang penting tujuan pekerjaan tercapai. Karena ketidakpeduliannya terhadap apa yang dihadapi orang lain, Doni menimbulkan konflik di dalam organisasi.

Sekilas Doni dekat dengan Boy, tapi ternyata mereka hidup dalam love and hate relationship. Memang Doni cenderung sendirian, tidak dekat dengan siapapun di organisasi. Seperti yang lainnya, Doni adalah orang kepercayaan Bimo. Dan menariknya… justru orang-orang kepercayaan Bimo malah saling menikam satu sama lain, tidak terlepas Doni yang suka mengadu orang-orang yang menghambat pencapaiannya kepada Bimo. Efeknya, banyak yang terkena semprotan Bimo akibat aduan yang tidak proporsional dari Doni. Sudah cukup banyak orang resign dari perusahaan akibat perilaku Doni.

Bimo, the CEO

Interaksi dengan Bimo sang CEO merupakan interaksi yang menarik. Dia adalah karakter yang keras dan memiliki drive yang sangat tinggi. Ternyata karakter yang dimilikinya sama dengan orang-orang kepercayaanya: drive yang sangat tinggi. Dia bisa meledak-meledak secara emosional kepada siapapun ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Setelah berinteraksi lama, ternyata banyak pernyataannya yang tidak konsisten dan konsekuen. Walaupun mungkin tidak bermaksud berbohong (karena Bimo selalu menggembar-gemborkan integritas), tapi ternyata banyak pernyataannya yang berbeda dengan perilakunya. Intinya, banyak pernyataan yang conflicting satu sama lain.

Bimo menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang mengedepankan values dan integritas. Banyak jargon yang dibawanya di dalam organisasi agar setiap orang bergerak berdasarkan values. Banyak training yang diberikan kepada karyawan untuk membentuk culture yang berbasiskan values. Namun setelah berinteraksi sekian lama, ternyata apa yang diajarkan tidaklah dilakukan oleh Bimo. Tidak seperti perilaku proaktif yang diajarkan di dalam kelas 7 Habits yang diwajibkan kepada seluruh karyawan, Bimo justru menunjukkan perilaku reaktif yang meledak-ledak ketika menghadapi situasi konflik.

Dengan karakternya yang meledak-ledak menunjukkan sisi menarik dari Bimo, yaitu kurang mampunya dalam pengendalian diri. Akibat karakternya yang tidak terkendali tersebut, akhirnya tingkat turnover di perusahaan ini sangat tinggi dalam waktu singkat. Tidak membutuhkan waktu singkat beberapa C level dan leaders hengkang dari perusahaan. Bahkan banyak key leaders yang rela turun penghasilannya demi segera keluar dari perusahaan ini. Mereka tidak tahan dengan situasi konflik, ini menguras energi mereka.

Situasi konflik seringkali dipicu oleh aduan dari orang-orang kepercayaan Bimo. Tanpa mengkonfirmasi kondisi yang terjadi sesungguhnya, Bimo langsung “menghajar” orang yang diadukan oleh orang-orang kepercayaannya tersebut. Efeknya, rasa saling percaya semakin rusak di antara para leaders. Budaya blaming other sudah sangat umum. Setiap orang menjadi taichi master, yaitu kalau masalah bisa ditransfer ke orang lain, kenapa saya harus menanggu masalah itu? Secara culture, memang sudah sangat rusak, karena sumber kanker-nya justru malah diberikan makanan lezat. Orang kepercayaan Bimo semakin berkuasa. Dan menariknya, di antara mereka pun saling mengadukan satu sama lain. Bimo pun berkesan senang mengadu domba satu sama lain. Dalam banyak kasus, Bimo “mengadukan” omongan buruk kepada satu dan lainnya. Misal, ketika Boy menyatakan hal buruk tentang Herman kepada Bimo, hal itu justru di-konfrontir kepada Herman, sehingga Herman tahu kalau Boy membicarakan hal yang buruk tentang Herman kepada Bimo. Ini lah yang membuat tensi di antara mereka semakin tinggi. Tapi menariknya, Ini justru yang membuat Bimo jengah, “kenapa sih anak-anak ini susah kompak?” kata Bimo di salah satu kesempatan.

Principle Centered Leadership

Cerita Bimo dan perusahaannya ini membuat saya teringat satu konsep yang dikenalkan oleh Steven R. Covey, yaitu principle centered leadership. Tugas seorang leader adalah memimpin organisasi, dan ini dapat dilihat dari gambar sebagai berikut:

Dari kasus Genuine.inc, menunjukkan bahwa organisasi ini tidak align satu sama lain. Dari strategi terlihat bahwa setiap bagian mementingkan dirinya sendiri. Kenapa itu terjadi? Karena karakter Bimo yang controlling, para leader menjadi takut untuk mengambil tindakan. Karena takut “dihajar”, mereka cenderung ambil aman. Padahal di sisi lain, Bimo selalu “gemas” dengan orang-orang yang safe player. Di sini terlihat tidak terjadi empowerment. Nah, ternyata empowerment tersebut tidak terjadi akbiat secara interpersonal, tidak tercipta trust di antara mereka. Dan ini semua bermuara dari karakter Bimo yang tidak menjadi individu yang trustworthy. Kenapa? Trustworthy-ness dibangun dari dua hal: competency dan character. Seperti yang disebutkan di atas, karakter Bimo yang mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan perilakunya, atau dengan kata lain tidak konsisten dan konsekuen membuat orang tidak percaya kepada Bimo.

You can’t lead others if…

Setelah berinteraksi beberapa bulan, akhirnya Franky menghadap Bimo, menyampaikan concernnya terhadap Bimo. “Mohon maaf Pak, sepertinya penyakit organisasi ini sulit untuk disembuhkan”, kata Franky. Bimo kaget mendengar pernyataan Franky. “Bagaimana anak-anak bisa kompak, kalo orang-orang yang bikin masalah kolaborasi malah jadi hero di sini”, lanjut Franky.

Pernyataan itu membuat murka Bimo. Dia merasa para hero itu lah yang membangun perusahaan itu. Merekalah yang membuat perusahaan berjaya. Memang benar, mereka juga menjadi bagian dalam membangun perusahan, bersama orang-orang lain yang dianggap bermasalah. Halusinasi bahwa merekalah yang membuat perusahaan hebat, membuat perusaan ini stagnant selama 3 tahun terakhir, tidak mencapai strategic objective-nya, dan menciptakan budaya konflik yang carut marut.

Akhirnya Franky meninggalkan Bimo dengan kenangan kata-kata bos Franky sebelumnya: “Frank, kamu nggak akan bisa memimpin organisasi kalau kamu nggak bisa memimpin diri sendiri”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: