Lihatlah background suatu peristiwa, maka kamu akan belajar untuk menjadi bijak

Di sore hari selepas meeting, seorang sahabat memgkonfirmasikan apakah seseorang yang saya hormati pernah menjabat suatu posisi di salah satu anak perusahaan. Dari ekspresinya saya menangkap bahwa dia mendengar hal yang negatif tentang orang yang saya hormati tersebut. Setelah didesak akhirnya dia pun mengaku kalau mendengar gosip bahwa orang yang saya Hormati tersebut dianggap tidak berkontribusi selama menjabat di perusahaan tersebut. 

Saya pun tersenyum mendengar angapan tersebut. Tanpa bermaksud membela, saya coba jelaskan latar belakangnya. Beliau (sebut saja pak Joni) sesungguhnya tidak memiliki latar belakang si bidang yang dijabatnya waktu itu. Jikapun ada, hanya sebagian kecil dari keseluruhan proses bisnis yang ideal. Untuk memegang operation, dengan latar belakang beliau, ditambah waktu beliau menjabat yang kurang dari satu tahun, raaanya kurang adil apabila menganggap beliau kurang berkontribusi. Saya pun menetahui kurang concernnya top management terhadap proses terkait jabatan tersebut.

Setelah mendengar penjelasan saya, sang Sahabat pun akhirnya mengerti. Bahwa anggapan, judgement, gosip, menjadi mentah apabilakita mengetahui latar belakangnya. Jika disekolah kita diajarkan untuk bertanya “kenapa” agar kita menjadi kritis, maka saya pun akan mengguanakan kata yang sama, agar kita menjadi bijak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: