Masih relevankan model bisnis di era Hypercompetition? (Bagian 1)

Lingkungan bisnis dalam lima puluh tahun terakhir semakin keras dan kompetitif. Competitive advantage yang dulu membuat perusahaan menjadi terdepan, saat ini bisa menjadi menjadi tidak relevan lagi. Coba kita lihat, siapa di sini yang pernah menggunakan laptop IBM thinkpad? Atau yang pernah erkagum-kagum dengan mungilnya laptop Toshiba Portege? Minggu lalu kita dikejutkan (walaupun tidak heran) dengan berita bahwa Toshiba yang pernah jadi raja Laptop terpaksa harus menyerah. Ini menambah daftar panjang raja yang terpaksa turun tahta seperti Compaq, HP, dan IBM. Belum dihitung raja-raja hamdphone seperti Nokia, Siemens, Ericsson yang dulu sempat jadi icon kesuksesan, saat ini sudah tidak pernah terdengar lagi namanya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh L. G. Thomas dan Richard D’Aveni (The Rise of Hypercompetition From 1950 to 2002: Evidence of Increasing Industry Destabilization and Temporary Competitive Advantage, 2004) sejak tahun 1950 hingga 2002 di Amerika telah terjadi perubahan secara gradual pada industri manufakturnya. Keanekaragaman dan kerapuhan competitive advantage yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan tersebut cenderung meningkat. Ini menunjukkan bahwa hypercompetition memang benar-benar nyata. Dalam penelitian tersebut ditemukan juga bahwa kompetisi monopolistik cenderung akan mati. Tingkat keragaman dan kerapuhan competitive advantage juga menunjukkan angka yang jauh dari teori monopolistik. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan tidak hanya dimiliki oleh perusahaan besar yang dulunya mendominasi pasar. Kreatifitas, fleksibilitas, serta inovasi yang dimiliki oleh perusahaan kecil telah merubah peta persaingan.

hypercompetition book

Kerasnya kompetisi juga dirasakan oleh perusahan-perusahaan di Indonesia. PT. Pos Indonesia yang dulu menguasai pengiriman surat dan paket serta wesel, kali ini harus terpaksa harus menghadapi persaingan yang sangat keras di industri ini. PT. Pos tidak hanya direpotkan oleh banyaknya pemain-pemain baru (yang relatif kecil dan lincah bergerak) dari dalam negeri, tapi juga tantangan dari perusahaan-perusahaan asing seperti DHL, UPS, TNT, dsb. Usaha wesel pos-nya pun juga menghadapi tantangan dari ATM yang jaringannya mulai merambah desa. Luasnya jaringan PT. Pos yang dulunya menjadi competitive advantage, saat ini menjadi kurang relevan lagi. Walaupun telah berulang kali merubah definisi bisnisnya, PT Pos masih belum keluar dari permasalahan yang dihadapinya.

Kompetisi yang demikian keras tersebut salah satunya diakibatkan oleh “hilangnya” batas-batas antar negara dan batas industri akibat semakin berkembangnya teknologi informasi. Setiap orang memiliki akses terhadap pengetahuan dan informasi yang nyaris tanpa batas. Selain itu, akses pasar pun semakin terbuka lebar dengan semakin mudahnya orang berbisnis melalui Internet. Barnes and Nobles, sebagai salah satu retailer buku terbesar di Amerika harus menghadapi Amazon yang berjualan buku melalui Internet. Dengan berjualan melalui internet, pasar Amazon tidak terbatas hanya di Amerika saja, melainkan pasar global. Model bisnis baru pun bermunculan setelah terjadinya booming internet. Sebut saja Google, E-Bay dan para pemain di dunia internet lainnya, telah membuat peta persaingan di dunia IT semakin ketat. Keinginan untuk berekspansi membuat setiap perusahaan mulai memasuki area yang dulunya dimiliki oleh perusahaan lain. Google, yang awalnya merupakan perusahaan search engine, mulai memasuki “area” komunikasi dengan mengeluarkan android. Apple yang dulunya bermain di PC dengan spesialisasi grafis-nya saat ini meredifinisi bisnisnya menjadi entertainment company. Selain memproduksi PC dan notebook, Apple meramaikan pasar MP3 player dengan mengeluarkan Ipod-nya yang fenomenal. Selain itu, pasar ponsel pun diramaikan oleh produk Iphone, yang juga dikeluarkan oleh Apple, Inc. Blue bird yang merupakan raja taksi di Indonesia juga harus merasakan gempuran taksi online seperti Gocar, grab car. Bahkan persaingan taksi online juga sangat kejam ditandai dengan hengkangnya uber di pasar asia tenggara. Apakah taksi online tersebut adalah perusahaan transportasi? Kita sudah tahu jawabannya adalah bukan, karena mereka adalah perusahaan teknologi. Fenomena ini menandai betapa batas industri pun sudah dilampaui dalam era Hypercompetition ini.

Persaingan yang semakin keras membuat perusahaan harus berpikir keras dan lebih inovatif lagi agar dapat bertahan. Pemain-pemain baru yang awalnya kecil berinovasi dengan model bisnis yang tidak konvensional. Pemain baru tersebut cukup membuat peta persaingan dalam Industri berubah, dan memaksa perusahaan incumbent bereaksi agar posisinya tidak tergoyangkan. Michael Dell, dahulu hanyalah pengusaha kecil yang menjual komputer rakitan dari kantor ke kantor. Namun, dengan model bisnis yang inovatif, yaitu penjualan PC secara langsung kepada customer yang memungkinkan customer membeli PC secara customized membuat posisi Dell saat ini menjadi salah satu produsen PC terkemuka di dunia. Model bisnis yang dimiliki oleh Dell tidak hanya sebatas model penjualannya saja, namun juga mencakup bagaimana proses produksi dan procurement-nya. Model terserbut membuat Dell sangat efisien sehingga memiliki profitabilitas yang tinggi. Hal ini merubah peta pesaingan di industri PC. Perusahann besar seperti HP harus mengakuisisi Compaq agar dapat terus bertahan di PC low end. Sementara IBM akhirnya harus melepaskan bisnis PC-nya dan masuk ke dalam industri consulting dengan mengakuisisi salah satu bisnis unit dari PriceWaterhouseCooper.

Peta persaingan terus berubah-ubah dan semakin keras. Kondisi persaingan yang serba cepat dan keras ini disebut sebagai persaingan yang hypercompetition. Kondisi ini ditandai oleh persaingan yang sangat keras yang dapat membuat competitive advantage yang dimiliki perusahaan menjadi tidak relevan lagi akibat gerakan agresif dan inovatif dari pesaing. Ini memaksa setiap pelaku bisnis harus berpikir lebih keras dan lebih inovatif lagi untuk bertahan. Salah satu yang harus dipikirkan oleh para pelaku bisnis adalah model bisnis apa yang dapat membuat mereka bertahan di lingkungan bisnis yang keras seperti ini. Atau lebih ekstrim lagi apakah model bisnis masih relevan dalam menjawab konteks bisnis yang hypercompetitive?

Untuk memahami, apa itu Hypercompetition, silahkan baca pada tulisan berikut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: