Uh oh… kamu ketawan!

Minggu ini banyak kejadian seru yang menggemparkan jagat dunia maya dan menghiasi berita di setiap media. Berita pertama adalah berita yang sudah lebih dari satu bulan belum selesai tapi terus memberikan kejutan baru yaitu tentang pembunuhan brigadir J. Kisah kedua adalah perseteruan pesulap merah dengan para dukun dan yang ketiga adalah kisah orang kaya yang mengutil coklat di sebuah minimarket. Dan menariknya, semuanya memberikan pembelajaran penting bagi kehidupan kita, yaitu bagaimana menjaga brand integrity.

Pembunuhan brigadir J

Per hari ini kisah pembunuhan brigadir J menemukan babak baru, di mana istri FS juga menjadi tersangka dan terancam hukuman yang sama dengan suaminya. Saya tidak akan membahas detail kasus ini. Yang saya tertarik adalah bagaimana impact dari kasus ini bagi FS dan kepolisian.

FS adalah kader polisi yang digadang-gadang akan menjadi Polri 1 di tahun 2024. Tapi apa daya, akibat emosi yang tidak terkendali, entah motifnya apa, semua karir yang sudah dibangun selama belasan tahun sirna seketika. Hukuman mati di depan mata. Istrinya pun bernasib sama. Keluarganya entah nasibnya seperti apa. Terlepas hukuman mati nanti benar dijatuhkan atau tidak, kehidupannya sejatinya sudah mati. Tidak akan ada lagi yang bisa mempercayainya, jikapun nanti dia dibiarkan hidup. Segala kebohongan yang disusunnya sudah terbuka dan terang benderang. Apalagi jika issue tentang konsorsium 303 ternyata terbukti, kehidupannya sesungguhnya sudah mati sejak sekarang.

Akibat tindakan tidak terkendali dan kebohongan demi kebohongan yang dilakukan FS, ternyata berakibat buruk bagi insititusi polri. Apalagi kebohongannya menyeret lebih dari 50 anggota polri. Ditambah release tentang kaisar sambo dan konsorium 303 yang juga menyeret nama-nama petinggi polri, ternyata makin membuat kepercayaan masyarakat semakin turun kepada polisi. Sampai kapolri menegaskan kepada anggotanya, bahwa proses ini adalah pertaruhan terakhir bagi reputasi polisi. Kebayang kan, petinggi divisi propam yang harusnya menjadi garda terakhir integritas polisi justru menjadi seorang don mafioso?

Dukun vs pesulap merah

Kisah seru lainnya adalah perseteruan antara pesulap merah dengan syamsudin dan Persatuan Dukun Indonesia. Ini adalah imbas dari dibongkarnya praktik tipu-tipu para dukun yang sesungguhnya hanyalah praktik sulap. Apalagi ini dibungkus oleh agama, semakin membuat pesulap merah bersemangat untuk membongkar para penipu tersebut.

Persatuan Dukun Indonesia pun meradang. Melalui pengacaranya, mereka menuntut pesulap merah. Beberapa aktivis nya juga tampil di beberapa pod cast di youtube. Tapi lucunya, kemunculan mereka justru semakin menunjukkan kebohongan dunia perdukunan. Ditambah lagi para korban dan santri yang pernah di padepokan tersebut membuka suara penipuan sang dukun. Akibat nya, bahkan padepokan milik syamsudin harus ditutup berdasarkan keputusan bupati Blitar. Dan katanya, para dukun pun pada sepi job akibat pembongkaran penipuan tersebut, makanya mereka menuntut pesulap merah. Lucu juga ya, kenapa bisa sepi job ya, kan mereka bisa melakukan pesugihan? Dan lebih lucunya lagi, kalo mereka bisa menyantet pesulap merah, kenapa capek-capek sewa pengacara ya?

Maling coklat

Kisah ketiga yang tidak kalah serunya adalah kisah seorang ibu yang tertangkap mengambil coklat di sebuah minimarket. Untungnya aksi tersebut ditangkap oleh pegawai minimarket tersebut, dan sempat di-video-kan. Dan video tersebut sempat viral. Tidak terima videonya viral, sang ibu pun akhirnya menemui pegawai minimarket tersebut dan mengancam akan mempidanakannya dengan menggunakan UU ITE. Akhirnya sang pegawai pun memberikan permohonan maafnya di dampingi oleh pengacara si ibu pengutil di jagat twitter.

Pegawai minimarket tersebut justru mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Pengacara kondang Hotman Paris hutapea pun siap mendukungnya dengan layanan gratis. Perusahaan pun siap membayar pengacara tersebut untuk mendukung pegawai minimarket tersebut. Netizen pun tidak kalah sigap. Sang ibu pengutil tersebut ternyata memiliki bisnis HP, dan akhirnya tidak butuh waktu lama review di google untuk toko tersebut pun mendapatkan bintang satu. Nama sang ibu sudah tersebar ke mana-mana. Akhirnya sang ibu pengutil membacakan permohonan maaf kepada pegawai minimarket tersebut di polres setempat. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Muka sudah tersebar di mana-mana, apalagi ternyata sang pengutil pun pernah tertangkap tangan mengutil di tepat lain sebelumnya. Review satu di google pun pastinya berimbas signifikan bagi bisnis HP-nya. Nasibnya pun saya duga tidak jauh seperti para dukun dan bung FS di atas. Kehidupannya sudah “mati”, seiring dengan matinya reputasinya.

Lesson learnt: Branding concept

Tiga kasus di atas memiliki kesamaan: kebohongan dan integritas yang buruk ternyata mematikan reputasi kita. Reputasi mati, sama saja kehidupannya mati, karena kita ini hidup bukan hanya dengan bernafas. Kita hidup bermasyarakat dan membutuhkan bantuan orang lain. Ketika kepercayaan hilang, habis sudah lah kehidupan kita.

Setiap dari kita memiliki value proposition. Insitusi tempat kita berkerja pun memiliki value proposition. Untuk polisi, value propositionnya adalah menegakkan keadilan. Dan setiap anggotanya pun seharusnya memiliki value proposition yang sama. Dan ketika keadilan justru ambruk, value proposition itu juga ambruk. Jangan lupa, value proposition adalah janji yang harus ditepati. Ketika janji tidak ditepati, kepercayaan pun punah. Impactnya tidak hanya bagi kehidupan FS, istrinya maupun keluarganya. Seluruh insitusi pun terpaksa menelan pil pahit tersebut. Saya percaya masih banyak polisi yang memiliki integritas. Tapi akibat sebagian anggotanya yang busuk, seluruh insitusi pun menjadi korbannya.

Untuk para dukun, value propositionnya adalah menyembuhkan. Ketika kesembuhan tidak terjadi, yang ada adalah terbongkarnya kepalsuan yang sesungguhnya hanya sulap belaka, value proposition pun ambruk. Tidak hanya syamsudin yang terkena, padepokannya beserta para santrinya pun kena imbasnya. Seluruh dukun pun merasakan sepi order. Lagi-lagi, akibat satu kebohongan yang terbongkar, orang banyak terkena imbasnya.

Bagaimana dengan sang pengutil? Akibat tindakan bodohnya, bisnis HP-nya pun kena imbasnya. Impactnya pasti terkena pada keluarganya. Reputasi yang dibangun untuk bisnis HP-nya pun pasti runtuh dalam waktu singkat. Kasihan keluarganya. Mereka terkena imbas akibat perbuatan ibunya.

Kembali membahas brand. Value proposition merupakan esensi dari keberadaan sebuah brand. Kita bisa saja memiliki value proposition yang berbeda, tapi ada satu hal yang hygiene: integritas. Ya, integritas adalah hal yang fundamental dalam membangun brand. Integritas adalah satu kata dengan perbuatan. Apa yang dikatakan harus align dengan apa yang dilakuan dan apa yang terlihat oleh para stakeholder ktia. Jika salah satu saja tidak terpenuhi, kepercayaan akan rusak. Kita semua adalah representasi sebuah brand, yaitu nama kita sendiri. Apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan, dan apa yang orang lain lihat kepada kita, itu akan membangun brand kita. Selain itu, kita juga menjadi bagian dari brand yang lebih besar lagi. Seorang karyawan menjadi bagian bagi brand sebuah perusahaan. Anggota polisi adalah bagian dari brand besar yang bernama lembaga kepolisian. Atau paling nggak, kita adalah bagian dari keluarga kita. Apa yang setiap orang lakukan, pasti akan berimbas kepada organisasi kita. Untuk itu, menjaga integritas individu sebagai brand sangat penting bagi integritas organisasi sebagai brand. Gampangnya: jangan sekali-kali berbohong. Jangan sekali-kali tidak menepati janji. Ketika itu terjadi, maka brand kita pun akan kehilangan kepercayaan para stakeholder. Dan ketika kepercayaan hilang, pilihannya tidak lain adalah: mati.

You know what it’s like when someone tells you they’re fine, yet their voice is flat, their arms are crossed and they can’t look you in the eye? Inconsistency and incongruity bother people.

Rachel, in allthings.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: