Apa makna tujuan Anda?

Hampir 20 tahun yanng lalu, saya menuliskan tujuan hidup saya pada saat training basic management di tempat saya bekerja dulu. Sebagai fresh graduate yang naif, saya menuliskan hal yang sangat kongkrit: memiliki BMW Z3. Sebagai penghobi otomotif, adalah hal yang wajar menjadikan mobil impiannya menjadi tujuan hidup. Sekilas saya mengintip tujuan hidup teman sekelas saya. Jawabannya ternyata beragam, ada yang menjawab hidup bahagia, ada yang menjawab membangun keluarga yang sakinah, dan ada yang menjawab memiliki kesehatan. Saat itu saya tertawa, bagaimana bisa mereka memiliki tujuan hidup yang tidak kongkrit begitu?

Tujuan adalah merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Dengan adanya tujuan, kita akan memfokuskan apa yang kita miliki dan lakukan untuk mencapainya. Tujuan adalah indikator kesuksesan. Tapi, sayangnya… tidak semua orang paham tujuannya. Jangankan tujuan hidup, tujuan karirnya pun tidak semua orang bisa menjawab secara firm. Ketika dalam banyak sesi coaching, ternyata pertanyaan apa tujuan dari sesi coaching adalah bagian yang paling sulit dijawab Client. Saya biasanya menggali secara mendalam bagian ini, karena tanpa platform goal yang firm, arah pembahasan coaching akan bergoyang ke mana-mana.

Tanpa arah, pilihan jalan menjadi tidak penting

Dalam Cerita klasik Alice in Wonderland, ketika Alice bertemu kucing (the chesire cat), Alice bertanya lewat mana jalan yang harus ditempuh. Dan sang kucing bertanya tujuannya, dan dijawab oleh Alice bahwa tujuannya tidak penting. Nah, sang kucing pun menjawab, kalau begitu apapun jalan yang kita tempuh menjadi tidak penting. Pernahkah kita berjalan-jalan tanpa arah dan tujuan? Kecuali memang kesenangan akan berjalan-jalan itu adalah tujuannya, berjalan tanpa tujuan adalah sebuah kegiatan yang membuang waktu dan tenaga.

Tujuan yang paling simple adalah menjadi sukses. Nah, apa itu sukses? Tanpa tujuan, kita tidak akan pernah tahu, apakah kita sukses atau tidak, karena tujuan adalah ukuran kesuksesan. Tanpa tujuan, kita tidak memiliki “energi” dan motivator yang kuat untuk mendapai sesuatu, yaa… hidup bagaikan air mengalir saja untuk beberapa orang.

Menurut saya, kunci sukses orang dalam kehidupan adalah:

  1. Memiliki tujuan hidup
  2. Tujuan hidup tersebut benar dan bermakna
  3. Memiliki strategi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut
  4. Memiliki disiplin yang kuat untuk menjalankan strategi tersebut.

Nah, kalau begitu, bagaimana cara menentukan tujuan yang ‘benar’? Apa sih tujuan yang ‘benar’ itu? Buat saya, tujuan yang benar adalah tujuan yang ketika kita mencapai tujuan tersebut, kita akan merasakan kepuasan yang hakiki, tidak ada rasa penyesalan di sana, ada rasa bahagia yang sejati ketika mencapaimua, tidak ada pertanyaan “so what gitu lho?”. Tujuan yang benar adalah ukuran kesuksesan yang hakiki. Dan itu hanya bisa dijawab oleh kita sebagai pemilik tujuan tersebut, bukan orang lain yang memandang kita.

Biasanya, tujuan dibuat dalam dimensi-dimensi di bawah ini:

Finansial

Uang adalah hal paling kongkrit yang sering menjadi tujuan manusia

Ini tujuan yang paling sering digunakan oleh banyak orang. Paling basic tujuan orang banyak adalaaaah…. ya.. menjadi orang kaya. Punya uang yang banyak. Memiliki rumah mewah. Memiliki mobil sport (seperti tujuan saya di awal), dan sebagainya yang bersifat materialistis. Jika di organisasi, objective ini juga yang paling sering digunakan: mencapai profit, meningkatkan shareholder’s value, mencapai market share tertentu, dsb. Ukuran ini adalah ujuran yang tangible dan paling mudah diukur. Sangat jelas terlihat terpampang di depan mata hasilnya. Segala materi yang diperoleh dapat terlihat oleh semua orang.

Ukuran finansial biasanya dicapai dengan upaya transaksional, you sell I buy. Prinsip yang digunakan dalam tujuan ini adalah fairness. Apa yang dilakukan, rewardnya haruslah setara. Karena tujuan ini akan memenuhi kepuasan fisik kita, dan ini langsung dinikmati oleh kita, maka orang cenderung akan melakukan apapun untuk mencapainya, termasuk yang tidak halalan thoyyiban. Korupsi termasuk di dalamnya. Berlaku curang dalam berbisnis juga sering dilakukan untuk mencapai tujuan ini. Dengan harta, kita akan bisa membeli apa saja yang kita mau. Kita bisa tertawa dengan liburan keliling dunia dengan harta yang menjadi tujuan kita. Kita bisa membeli mobil impian kita dengan harta yang menjadi tujuan kita. Namun… apakah itu artinya kita bisa membeli kebahagiaan? Nah, sekali lagi, apakah tujuan finansial adalah tujuan yang benar? Silahkan direnungkan!

Sosial

Do Good For Others. It Will Come Back In Unexpected Ways Pictures ...

Tujuan sosial adalah tujuan untuk melakukan kebaikan kepada orang lain. Do good to others, bermanfaat bagi orang lain, itu salah satu tujuannya. Prinsip yang digunakan dalam tujuan ini adalah prinsip kebaikan (kindness) dalam principle centered leadership. Dengan tujuan ini, biasanya kepuasan didapat ketika orang lain bahagia dengan bantuan kita. Dalam sebuah penelitian, ternyata salah satu penyebab kebahagiaan adalah dengan melakukan kebaikan kepada orang lain.

Berbeda dengan tujuan finansial, tujuan ini relatif lebih sulit terukur. Paling ukurannya berapa orang yang terbantu oleh kita atau organisasi. Dalam banyak kasus, jarang yang mempublikasikan pencapaian tujuan ini, khususnya organisasi yang menggunakan kebaikan untuk tujuan yang lebih hakiki ketimbang kebaikan itu sendiri.

Di dalam organisasi, tujuan ini akan meng-attract orang-orang yang senang berbuat baik. Tujuan ini bisa jadi adalah tujuan yang baik, tapi kembali lagi, apakah tujuan ini adalah tujuan yang hakiki? Bisa jadi, karena saya pernah membaca, bahwa kebahagiaan dapat dicapai bukan dengan memiliki sesuatu, tapi dengan berbagi dengan sesama. Tapi, kembali lagi, dengan kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain, so what?

Transformasional

Tujuan ini mentargetkan pengembangan diri secara intelektual atau skill. Targetnya adalah lebih pintar dan lebih baik dari waktu ke waktu. Jika di dalam organisasi, tujuannya adalah bagaimana people dalam organisasi berkembang secara kompetensi. Kebutuhan yang terpenuhi dalam tujuan ini adalah kenutuhan intelektual. Prinsip yang digunakan dalam tujuan ini adalah prinsip pengembangan talent. Memang tujuan seperti ini biasanya tertulis di dalam misi perusahaan. Ukurannya agak sulit ditentukan. Tujuan mulia ini pasti meng-attract orang-orang yang suka belajar dan senang mengembangkan diri.

Kembali kepada tujuan hakiki. Ok, dengan tujuan ini, orang akan berkembang dan lebih baik. Orang akan memiliki taraf hidup lebih baik. Tapi, jika seseorang berkembang secara intelektual, so what?

Meaning

What Legacy Will You Leave Behind | This or that questions, Good ...
Keberadaan kita di dunia adalah meninggalkan legacy yang bermakna

Tujuan ini adalah menciptakan legacy dan meaning dalam kehidupan kita. Ini adalah tujuan transendental. Kebutuhan yang akan terpenuhi dari tujuan ini adalah tujuan spiritual. Kita sebagai manusia yang sadar sepenuhnya, akan memahami bahwa dirinya adalah bagian dari super sistem yang diciptakan Tuhan dengan tujuan tertentu. Kita sesungguhnya adalah makhluk spiritual yang memiliki greater purpose dari sekedar memenuhi isi perut, menimbun harta, berbuat baik, dan belajar. Kita melakukanya karena ada tujuan yang lebih besar dari itu, yaitu memenuhi perintah-Nya.

Coba kita kembali ke tujuan-tujuan yang tadi disebutkan. Jika kita memiliki harta, so what? Kalau kita berhenti di rekening bank yang terlihat fantastis, besar kemungkinan kita akan mendapatkan kehampaan. Ya, dengan harta kita bisa bersenang-senang. So what? Bisa jadi, dengan harta yang kita miliki, kita bisa berbuat baik kepada sesama. Dengan berbuat baik, kita akan memiliki kebahagiaan yang lebih baik ketimbang memiliki harta yang berlimpah. Namun, setelah kita berbuat baik, so what? Apakah itu sudah cukup? Bisa jadi, tapi kepuasan akan kita lebih dapatkan jika dengan kebaikan tersebut, orang yang kita bantu taraf hidupnya lebih baik lagi. Kebahagiaan pasti akan kita rasakan secara lebih. Nah, ketika orang yang berkembang akibat kita, setelah itu apa? Cukup kah untuk mencapai kebahagiaan? Untuk kita yang sesungguhnya makhluk spiritual, seharusnya menyadari, bahwa semua harta, kebaikan, dan pengembangan yang kita lakukan adalah untuk legacy bagi kehidupan ini. Semuanya memiliki makna (meaning) bersifat transendental. Bagi saya, apapun yang kita lakukan meaningnya adalah sebagai modal agar kita bisa kembali kepada-Nya dengan tenang. Itulah tujuan hakiki menurut saya.

Tujuan yang Hakiki

Kembali lagi, memiliki tujuan yang tepat adalah esensial bagi kita pribadi maupun kita sebagai pemimpin dalam organisasi. Jika kita menggunakan konsep principle centered leadership, ke-empat kebutuhan yang dimiliki manusia harus terpenuhi, yaitu kebutuhan fisik, emosional, intelektual, dan spiritual. Saat ini, di saat konsep kapitalis yang mengagung-agungkan pencapaian finansial sudah menunjukkan kegagalannya untuk mengapai kebahagiaan yang hakiki, setiap leader di organisasi diharapkan menjadi CMO, Chief Meaning Officer. Mereka harus memiliki meaning yang kuat dari pekerjaannya. Meaning tersebut harus menjadi goal yang dapat mendrive setiap insan dalam organisasi menuju tujuannya.

Secret Sauce: Jenny Dearborn Chief Learning Officer of SAP ...

Coba bayangkan, jika tujuan organisasi adalah murni finansial. Bagaimana kira-kira culture yang terjadi di dalam organisasi? Apa yang memotivasi mereka untuk bekerja? Biasanya, culture yang terjadi adalah transaksional. Orang bekerja demi memenuhi pundi-pundinya. Tidak akan ada ikatan yang kuat, kecuali ikatan transaksi jual beli. Orang akan berlaku lebih dan extra mile, jika dibayar lebih.

Coba kita lihat lagi, organisasi yang bertujuan untuk kebaikan atau pembelajaran, biasanya organisasi ini memiliki tujuan spiritual, karena kebaikan dan pembelajaran adalah legacy. Di dalamnya akan diisi orang-orang yang bahkan rela tidak dibayar, karena mereka sadar akan tujuan mulianya.

Lalu, bagaimana kita mengetahui tujuan kita itu adalah hakiki atau tidak? Seperti yang saya tuliskan di atas, bahwa indikasi tujuan kita adalah tujuan yang hakiki adalah adanya kepuasan yang mendalam, tidak adanya penyesalan, serta adanya perasaan terpenuhi (fulfillment) pada saat tujuan tersebut tercapai. Selama nafas kita masih ada, kita akan mencapai berbagai tujuan hidup kita, dan kita pasti akan merasakan, bagaimana makna pencapaian itu bagi kita. Apakah bermakna? Apakah mengisi kekosongan hidup kita? Dan, akhirnya, tujuan kita akan semakin jelas ke-hakiki-annya, pada saat….. kita mati. Apakah semua perjuangan yang kita lakukan membawa ketenangan dalam hidup. Dan yang terpenting lagi, apakah perjuangan untuk mencapai tujuan tersebut membawa ketenangan setelah kita mati, dan membawa ketenangan bagi kita ketika menghadap-Nya? Oleh karenanya, renungkanlah tujuan yang kita tentukan, bayangkan ketika kita mencapainya, apa yang kita rasakan, apakah kepuasan yang bersifat fisik, emosional, intelektual, atau spiritual? Adakah penyesalan yang akan kita rasakan setelah mencapai hal tersebut. Sesungguhnya hal yang paling menyedihkan bagi manusia adalah merasakan penyesalan dalam hidupnya.

Nah, untuk memastikan apakah tujuan kita tidak membawa penyesalan setelah kita mati nanti, saatnya berkomunkasi dengan Pencipta kita. Mengapa kita ada di dunia? Apa tujuan penciptaan kita? Renungkan secara mendalam. Jika kita beragama, pelajari kitab suci kita, karena Yang Maha Kuasa berkomunkasi dengan kita dengan kitab suci-Nya. Dan akhirnya, apapun tujuan kita, apakah harta, kebaikan, pengembangan, sesungguhnya akan lebih bermakna jika semua itu diserahkan untuk ridha-Nya.

Apakah perjuangan untuk mencapai tujuan tersebut membawa ketenangan setelah kita mati, dan membawa ketenangan bagi kita ketika menghadap-Nya?

Sebagai penutup, izinkan saya share kenangan saat saya ospek jaman kuliah saya. Kata-kata ini selalu menancap di dalam pikiran saya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: