Strategi korporasi menjawab COVID-19 (bagian 1)

Pembahasan COCID-19 masih menjadi pembahasan yang menarik untuk dibahas. Berbagai webinar dilakukan membahas bagaimana perusahaan dan negara menghadapi krisis yang belum pernah dialami semua yang masih hidup saat ini. Virus yang tidak kasat mata tapi meluluhlantakkan kehidupan manusia, bahkan mengancam negara adidaya, ternyata menguji keuletan (agility) umat manusia.

Hingga hari ini, selain memakan korban jiwa, virus ini juga membawa negara-negara besar sekelas Amerika Serikat, Jerman, dan Korea Selatan terjun ke zona resesi. Penurunan ekonomi tersebut adalah yang terdalam sepanjang sejarah, bahkan lebih buruk dari the great depression yang terjadi di tahun 1933 lalu.

Kondisi ini tidak terlepas dari berhentinya aktivitas manusia untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini. Efek baiknya, bumi sempat bernafas segar karena asap sempat terhenti. Namun efek buruknya, ekonomi dunia tersendat. Beberapa sektor industri merasakan kejamnya efek virus ini. Gambar di bawah ini sudah cukup populer akhir-akhir ini:

Ada industri yang menikmati, ada juga yang mati akibat COVID-19

Akibat virus ini, manusia akhirnya kembali ke hal-hal yang basic, yaitu memenuhi kenutuhan fisiknya seperti makan dan menjaga kesehatan. Oleh karenanya, industri makanan minuman dan kesehatan akan menjadi hero dalam situasi ini. Industri yang selama ini mungkin memiliki margin yang relatif lebih rendah ketimbang industry leasure, jadi pemenangnya.

Di ekstrim kiri, industry yang bisa menikmati margin tinggi seperti traveling dan leisure merasakan dampak mematikan dari virus corona. Jutaan pegawai di industri ini terpaksa merasakan dampak PHK karena berhentinya aktivitas bisnis.

Kondisi krisis saat ini, jelas memberikan kita insight bagaimana perusahaan menyikapi kondisi ini agar dapat bertahan, dan tetap bisa menjaga momentum sehingga dapat berkembang di masa mendatang. Tulisan ini dimulai dari insight tentang strategi korporasi, kemudian strategi bisnis, dan diakhiri oleh strategi fungsional sebagai turunan dari dtrategi bisnis dan strategi korporasi.

Strategi korporasi

Strategi korporasi secara definisi adalah strategi untuk masuk atau keluar dari bisnis atau industri tertentu. Misal, saat ini bang Jali adalah tukang jualan kambing. Setelah melakukan Porter five forces analysis ternyata ditemukan bahwa bisnis akikah adalah bisnis yang menjanjikan karena pemain di daerahnya belum banyak dan ternyata banyak keluarga muda yang baru menikah dan punya anak. Berbekal kemampuan sang istri yang pintar memasak gule kambing, akhirnya bang Jali mulai masuk ke bisnis baru, yaitu jasa potong kambing dan masak untuk aqiqah.

Kembali ke kondisi COVID. Kondisi seperti ini memberikan insight kepada kita bahwa jika perusahaan kita memiliki diversifikasi bisnis yang lebar, maka potensi kehancuran akibat kondisi akan dapat diminimalisir. Seperti prinsip dalam investasi, do not put all eggs in one basket. Dari sisi strategi korporasi, ini memberikan pelajaran agar perusahaan harus mulai menyiapkan diversifikasi bisnis yang dapat menjaga resiko volatilitas setiap industri.

Bayangkan jika perusahaan anda hanya bergerak di satu industri saja, yaitu travelling related. Sudah jelas perusahaan anda akan terjebak dalam krisis, atau bahkan depresi. Coba lihat berapa banyak hotel di bali yang tutup dan terpaksa dijual karena tidak adanya aktivitas turis selama PSBB berlangsung. Atau coba lihat bagaimana Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan kebanggaan kita harus berjuang melawan kebangkrutan.

Beberapa perusahaan yang sangat terkena imbasnya, mulai bermanuver untuk bertahan. Salah satunya adalah mulai merambah atau serius di dalam sub industry lainnya. Contohnya adalah Air Asia yang memanfaatkan kabin yang biasanya digunakan untuk penumpang, dialihkan menjadi kargo. Langkah cerdas yang dilakukan Air Asia ini membuatnya tetap bertahan walaupun aktivitas penerbangan penumpangnya sempat terhenti selama PSBB.

Perusahaan yang sangat terimbas lainnya adalah start up traveloka dan tiket.com. Karena perusahaan ini sangat terkait dengan traveling, maka imbasnya sangat terasa. Traveloka terpaksa melakukan PHK terhadap karyawannya. Untuk menghadapi kondisi ini, tiket.com malah menyiasatinya dengan melakukan campaign membantu memberikan APD kepada tenaga medis. Semuanya dilakukan agar kapasitas terpasang selama ini tetap terutilisasi semaksimal mungkin sehingga dapat mengurangi kerugian akibat sunk cost yang timbul.

Diversifikasi? Tidak semudah itu Ferguso!

Melakukan diversifikasi bisnis juga bukan perkara mudah. Setiap industri membutuhkan core competency tertentu yang belum tentu dapat dimanage denga baik. Bayangkan selama ini Anda sudah terbiasa menjalani bisnis restoran, tetiba masuk ke dalam bisnis showroom mobil yang secara nature of business sangat jauh berbeda. Jika salah management, investasi yang dilakukan bisa saja sia-sia.

Biasanya diversifikasi bisnis dilakukan pada industry atau sub industry yang related dengan industry yang saat ini dijalani. Hal ini dilakukan agar akuisisi kompetensi yang dilakukan dapat berjalan mulus. Jika tidak dilakukan dengan baik, bahkan ekspansi bisnis yang masih dalam lingkup industry yang related dapat berujung pada kegagalan. Ambil contoh ketika KompasGramedia group mendirikan TV7 lalu yang berujung dijualnya stasiun TV ini kepada CTgroup. Walaupun akhirnya Kompas Gramedia akhirnya mendirikan stasion TV lagi bernama Kompas TV.

Strategi Aliansi

Di saat kondisi seperti ini, melakukan investasi pada industri baru adalah langkah yang gegabah. ingat, kondisi krisis menuntut perusahaan untuk menjaga cash yang ada agar bertahan hidup. Dengan demikian, strategi yang paling masuk akal adalah strategi aliansi dengan perusahaan lain.

Karena aksi korporasi sangat sulit dilakukan, maka yang paling memungkinkam adalah kerja sama atau co branding. Ini adalah cara yang cerdas karena perusahaan dapat belajar pada industri baru tanpa harus melakukan investasi dengan angka yang signifikan.

Tulisan selanjutnya akan membahas bagaimana perusahaan menyusun strategi bisnis agar dapat bertahan di saat resesi ini. So, stay tuned with noblegrey.id, and stay being strategic thinker!

Tulisan lainnya yang terkait:

Strategi adalah salah satu bagian dari organization development. Penjelasan mengenai strategi dapat dilihat di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: