Intel sudah kehilangan founder’s mentality-nya?

Tidak pernah terbayang sebelumnya, di tahun 2021 ini akhirnya saya kembali menggunakan produk dari Apple, yaitu Macbook Air dengan prosesor M1 chip nya yang berbasis Arm. Saya terus terang tergoda setelah melihat banyak reviewer yang memuji kinerja prosesor ini, bahkan mengalahkan macbook pro dengan prosesor intel yang dijual dengan harga 2x lipatnya. “Beruntungnya” saya karena pada pagi itu Microsoft Surface Pro yang sudah menemani saya lebih dari 3 tahun mendadak tidak bisa di charge. Akhirnya saya “terpaksa” menggantinya dengan macbook pro melalui online shop. Dan voila! Sebelum makan siang, saya sudah bisa bekerja dengan menggunakan macbook air saya yang baru. Dan saya harus akui, memang prosesor ini sangat cepat, sehingga macbook air ini menjadi notebook dengan value yang sangat baik. Saya sudah merasa kurang puas dengan kinerja Windows 10 dengan interface nya yang kurang nyaman, dan saya masih bertahan karena game-game saya hanya ada di Windows. Tapi begitu bicara kinerja untuk pekerjaan, akhirnya saya “mengalah” untuk menggunakan produk dari Apple, setelah terakhir saya menggunakan Macintosh LC475 di tahun 1994. FYI, I’m not an Apple fanboy.

Success breeds complacency. Complacency breeds failure. Only the paranoid survive - Andy Grove

Di balik suksesnya prosesor M1 dari Apple yang dikembangkannya sendiri, rupanya ada kisah menarik yang bisa ditarik pelajaran. Di dalam tulisan saya di tahun 2012 lalu, Andy Groove mantan CEO Intel pernah mengeluarkan buku “only the paranoid survive”. Konsep ini akhirnya memicu terjadinya Hipercompetition, di mana intel terus mengembangkan produknya, sehingga mengalahkan atau bahkan membunuh produk sebelumnya, sebelum kompetitor melakukannya. Intel walaupun saat itu masih merupakan penguasa pasar, terus berjuang untuk mengembangkan sesuatu yang baru, seperti layaknya penantang pasar (Insurgent).

Tapi yang terjadi sekarang tidak demikian. Setelah Apple yang selama hampir 15 tahun menggunakan intel di semua lini produk PC dan notebooknya, di tahun 2020 akhir, apple mengeluarkan produk yang menggunakan chipset yang dibangunnya sendiri, yaitu M1. Ini bermula akibat Intel menolak permintaan apple untuk membuatkan prosesor untuk Iphone-nya. Hal ini dilakukan Intel dengan alasan mereka tidak percaya Iphone akan menjadi produk yang sukses. Menurut perhitungan mereka, iphone tidak akan mencapai volume yang menguntungkan bagi intel. Hal ini memaksa apple harus membuat prosesor mereka sendiri. Dan akhirnya kita bisa melihat sendiri bahwa iphone sangat sukses di pasaran. Paul Othelini, CEO intel sebelumnya menyesali keputusan itu. Hal itu diperparah dengan pelayanan intel yang kurang baik terhadap apple, dan mereka tidak sanggup untuk mengikuti kecepatan yang diharapkan oleh apple. Kejadian tersebut rupanya merupakan blessing bagi apple karena akhirnya mereka mampu membuktikan bahwa mereka dapat menciptakan prosesor yang dapat mengalahkan kinerja intel.

Persaingan di Pasar Prosesor

Kita mengenal intel adalah penguasa pasar prosesor. Dengan tagline “Intel Inside”, walaupun prosesor merupakan produk yang tidak terlihat, tapi dengan kemampuan brandingnya yang ciamik, Intel berhasil membrandingkan dirinya sehingga para pengguna laptop atau PC lebih mencari produk dengan prosesor intel di dalamnya. Di dunia ini ada dua pemain besar produsen prosesor: Intel dan AMD. Untuk pengguna yang mengejar performa dengan harga yang relatif lebih murah, biasanya power user memilih AMD ketimbang Intel.

Dominasi intel menguasai pasar prosesor ini sesungguhnya lebih akibat kemampuan branding yang baik ketimbang kemampuan membuat produk yang inovatif. Kita bisa lihat, bagaimana perkembangan teknologi yang dihasilkan intel, tidak terlalu banyak perubahan dari waktu ke waktu. Sementara AMD, sebagai penantang, mereka terus berupaya berinovasi untuk menghasilkan produk yang memiliki value lebih baik ketimbang intel. Dan ini ditunjukkan pada tahun 2017, AMD mengeluarkan chipset Ryzen, yang ternyata mampu mengalahkan kinerja prosesor intel. Hal ini dapat dilihat dari hasil benchmark dari Intel. Dengan dikeluarkannya Ryzen, dominasi intel semakin lama semakin goyah. Dan ini juga ditunjukkan oleh semakin menurunnya market share intel sebagai berikut

source: http://www.statista.com

Sementara dari informasi lainnya, ternyata AMD sudah mengalahkan intel di PC desktop sejak Januari 2021:

Credit: PassMark Software, dari https://www.techradar.com/news/amd-overtakes-intel-in-desktop-cpu-market-share-for-the-first-time-in-15-years

Kelihatannya tahun 2020 – 2021 merupakan tahun berat yang dihadapi oleh intel. Selain mulai kehilangan kakinya di apple karena akhirnya apple mampu menyediakan prosesor untuk dirinya sendiri, sementara di persaingan PC, intel makin harus mengakui kekuatan AMD. Dari beberapa cerita, didapat bahwa keangkuhan intel terhadap apple dengan tidak bersedianya intel untuk mengembangkan prosesor untuk iphone serta service nya yang kurang baik harus dibayar mahal dengan diberhentikannya pembelian prosesor intel oleh apple.

Jadi apa sesungguhnya penyebab kesulitan yang dihadapi oleh intel selama ini?

Kejatuhan di masa jaya

Sejarah sudah membuktikan bahwa banyak perusahaan besar mengalami penurunan akibat sudah merasa nyaman dengan posisinya saat ini, dan hanya berfikir bagaimana mempertahankan posisi, bukan bagaimana menciptakan sesuatu yang baru demi kepuasan pelanggan. Dan ini terjadi lebih karena masalah internal alih-alih karena tekanan external. Memang pada mulanya terlihat perusahaan mengalami penurunan akibat adanya penantang baru atau business model baru yang mendisrupsi pasar kita.

Tapi jika ditelaah lebih lanjut, ternyata penurunan tersebut lebih diakibatkan oleh masalah internal, seperti dari hasil survey yang dilakukan oleh Bain & Company di bawah ini:

Penyebab perusahaan sulit mempertahankan growthnya: lebih karena masalah internalnya

Di awalnya, perusahaan yang dipegang oleh foundernya bergerak cepat. Ini dapat dilakukan karena perusahaan tersebut ukurannya masih kecil sehingga gerakannya lincah. Namun dengan seiring berjalannya waktu, perusahaan tersebut menjadi besar dan terus membesar. Jumlah karyawannya terus bertambah. Kompleksitas pun semakin meningkat. Dengan besarnya organisasi, perusahaan menjadi lebih birokratis dan cenderung melamban.

No company will consistently grow revenues quicker than its ability to get enough of the right people to implement that growth and still become a great company.

David Packard

Kenapa? Karena kemampuan perusahaan untuk meng-hire orang sebaik dulu di saat kecil tidak secepat pertumbuhan perusahaan. Efeknya, orang yang dihire pada saat besar memiliki kualifikasi yang sama dengan orang lama. Ini memaksa perusahaan juga untuk menerapkan sistem yang menjamin kualitas dapat terjaga dengan jumlah orang yang lebih banyak. Fenomena ini disebut sebagai packard’s law yang saya temukan dalam buku How The Mighty Fall karya Jim Collins.

Organisasi yang besar menciptakan kompleksitas. Dan kompleksitas adalah musuh dari growth, karena kompleksitas menyebabkan organisasi menjadi lambat. Selain itu, mentalitas perusahaan yang sudah besar menyebabkan perasaan ingin mempertahankan posisinya (incumbent), berbeda ketika perusahaan tersebut masih kecil, ketika masih menjadi penantang (insurgent). Kalau dengan framework Competing Values, perusahaan yang menjadi besar, bergeser culturenya ke bawah agar stabil. Ketika kecil culturenya adalah collaborate dan create, ketika membesar, culturenye bergeser menjadi control/hierarhy (dengan banyak penerapan sistem) dan compete/market (semakin ingin menjaga market share atau profitnya). Ini pernah terjadi di Apple ketika Scully menjadi CEO Apple, dan mendepak Steve Jobs di era 90-an.

Perubahan culture dari perusahaan kecil menjadi perusahaan besar

Dengan kompleksitas tersebut, ketika tidak dimanage dengan baik, perusahaan akan mengalami “stall out”, atau mulai mengalami stagnansi pertumbuhan. Bayangkan kita membawa mobil, udah nge-gas poll, tapi mobil nggak berakselerasi lagi.

Ada moment, ketika perusahaan sulit bertumbuh, akhirnya mengalami free-fall. Sekilas biasanya ini terjadi akibat adanya pendatang baru atau tantangan ekonomi. Tapi kalau dilihat lebih dalam lagi, ternyata hal ini terjadi lebih akibat ketidakmampuan perusahaan untuk mengantisipasi tantangn tersebut. Kejatuhan tersebut mengakibatkan penurunan kinerja perusahaan. Dan ini bisa jadi salah satu penyebab perusahaan besar jatuh. Ini juga dapat dilihat dalam buku How The Mighty Falls

Kejatuhan ini terjadi akibat kehilangannya founder’s mentality. Yaitu mentalitas yang dibutuhkan agar perusahaan terus agile dan dapat memanfaatkan peluang sehingga terus berkembang.

Founder’s Mentality

Upaya untuk mengembalikan growth agar tetap terus meningkat seperti pada saat perusahaan masih di tahap insurgent adalah dengan tetap menjaga founder’s mentality. Dalam kasus Intel, yaitu bagaimana mentalitas insan Intel tetap memiliki mentalitas “orang lama” seperti pada jaman Andy Groove. Pada jaman itu, Intel terus berinovasi, merasa “paranoid” dan terus meningkatkan kemampuannya. Tidak hanya sekedar bermain pada branding saja dan berinovasi sekedarnya.

Intel Kurang berinovasi

Kita sudah melihat inovasi yang dihasilkan oleh Intel, untuk menghasilkan chip dengan ukuran 7nm Saja intel menundanya hingga tahun 2022, sementara AMD sudah memperkenalkan chip tersebut sejak tahun 2018!

Intel menunda launching prosesornya yang berukuran 7nM
Sementara itu AMD malah sudah keluar sejak 2 tahun lalu
Dan Apple pun menyusul juga

Dengan suksesnya prosesor M1 yang berbasiskan Arm, ternyata produsen komputer lainnya seperti Microsoft, juga mempersiapkan prosesor berbasiskan Arm:

Kelihatannya posisi Intel dengan basis x86 makin berpotensi tidak relevan di industri prosesor. Intel memang harus keluar dari tekanan yang menderanya

So What?

Lalu, bagaimana cara Intel bisa keluar dari tekanan ini? Kondisi intel saat ini sesungguhnya belum pada kondisi yang mengkhawatirkan, jika hanya melihat kinerja keuangannya saja. Di tahun yang penuh ketidakpastian akibat pandemi, Intel justru membukukan keuangan yang ciamik:

Sumber: https://www.anandtech.com/show/16440/intel-reports-q4-2020-earnings-2020-delivers-a-rather-profitable-pandemic

Namun kinerja di Q1, diprediksi tidak semengkilap kinerja di tahun 2020:

Dengan situasi ini, memang Intel harus segera melakukan sesuatu yang radikal, sebelum kondisi keuangannya benar-benar sulit sehingga tidak memiliki sumber daya yang mencukupi untuk melakukan transformasi, atau mengembalikan founder’s mentality nya. Dengan kondisi yang hampir menuju free fall ini Intel dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Membangun kembali re-founding team, salah satunya adalah dengan mengganti senior management team yang bisa menggerakkan inovasi di dalam tubuh Intel.
  2. Redefine insurgency, yaitu dengan menyamakan visi besar Intel untuk terus menjadi penantang bahkan pembentuk industri. Bukan cerita umum bahwa banyak engineer terbaik Intel meninggalkan intel akibat perusahaan ini sudah tidak memiliki ruh inovasi seperti dulu. Nah, ini yang harus dikembalikan di tubuh Intel.
  3. Rebuild front line, yaitu dengan memastikan kebutuhan client terpenuhi. Kejadian yang menimpa Apple seharusnya sudah sejak lama diantisipasi. Saat ini Intel kembali mendekati Apple agar produksi chip M1-nya dapat diproduksi di fasilitasnya, alih-alih di Cina. Intel harus berhenti berfikir bahwa Intel mendominasi industri chipset. Hal itu sudah mulai akan berakhir.
  4. Go Private. Menariknya, di beberapa buku strategi, ternyata go private merupakan jalan terbaik agar perusahaan dapat menemukan kembali ruhnya. Walaupun hal ini tidak semudah membalikkan tangan, ternyata menjadi perusahaan private lebih menguntungkan karena tidak mendapat tekanan pasar. Tekanan tersebut disinyalir mengakibatkan top management mengambil tindakan yang short term, karena pasar selalu membuat opini yang membuat pejabat perusahaan harus mempertahankan posisinya. Ini mungkin terjadi karena banyak juga trader yang bermain di pasar, yang tentu saja lebih berorientasi short term ketimbang pemain pasar yang melihat fundamental perusahaan. Berbeda dengan perusahaan privat yang tidak mengalami tekanan pasar, sehingga pemimpinnya dapat melakukan apa saja yang bersifat long term.

Intinya, agar kembali ke kejayaannya, management Intel harus mengembalikan ruh “Paranoid” yang diajarkan oleh Andy Groove.

 - Dilbert by Scott Adams

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: