Masalah buat loe?

Hari ini aku masih lanjut baca buku ”what is your Problem?”. Buku ini menarik perhatian ku karena permasalahan terbesar manusia adalah bagaimana kita meng-handle masalah.

Masalah pertama adalah orang nggak merasa punya masalah. Ini saya pernah diskusi waktu proses improvement di perusahaan lama saya dulu. Waktu itu ketika kita mau memulai improvement, pertanyaan mendasar sebelum melakukan improvement adalah pertanyaan: apa masalah yang kamu hadapi? Waktu itu saya mendapat jawaban yang lumayan mengejutkan: Saya nggak ada masalah pak. Sontak saya langsung menjawab: itu masalah terbesar kamu. Kalo kamu nggak merasa ada masalah, itulah masalahnya. Founder di perusahaan saya saat ini pernah bilang: dibalik masalah ada rejeki. Kita bekerja karena adanya masalah dalam perusahaan yang harus kita selesaikan. Kebayang kalo masalah di perusahaan sudah terselesaikan semua, kenapa kita masih harus ada? Kita bisa magabut (makan gaji buta) dan tinggal menunggu waktu untuk di PHK saja. Jadi, ketika ada masalah, itu tandanya ada rejeki, ada peluang bagi kita untuk belajar lebih baik lagi. Kalau kita belum menemukan adanya masalah, buka mata lebar-lebar, buka telinga lebar-lebar. Rasakan saja, pasti ada suara-suara sumbang. Pasti ada saja masalah yang dirasakan orang sekitar kita. Nah, kalo ketemu, disitulah ada rejeki bagi kita.

Masalah kedua adalah orang membesar-besarkan masalah yang seharusnya bukan masalah. Kalo ini adalah masalah bagi orang lebay. Kalo ini efeknya adalah apa yang dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut bisa jadi tidak efisien. Bisa jadi masalah kecil di-counter dengan cara yang besar. Membunuh nyamuk dengan meriam, itu kata bapak saya. Kita bisa over-reacting, yang menyebabkan kita mengeluarkan effort yang nggak perlu, yang seharusnya bisa kita keluarkan untuk masalah yang impactnya jauh lebih besar. Seorang sahabat pernah cerita, bahwa dalam sebuah diskusi panjang, ketika di tengah ditanya, ini nilai masalahnya berapa sih? Ternyata impact masalah tersebut nggak besar sama sekali. Pelajaran dari sini adalah: ketika kita menghadapi sebuah masalah, tanyakan terlebih dahulu, berapa besar impactnya? Apakah masalah ini adalah masalah yang layak untuk segera diselesaikan?

Masalah ketiga adalah orang salah memilih masalah mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Kalo ini biasanya orang yang bingung dengan banyaknya persoalan yang dihadapi. Nah di sini biasanya orang belum bisa membedakan antara persoalan dengan masalah. Keduanya memiliki kesamaan adanya gap antara target vs actual, antara keinginan dengan kenyataaan. Nah, bedanya adalah: kalau masalah itu harus diselesaikan dengan segera, sementara persoalan tidak. Kalo kamu merasa bingung dengan banyaknya persoalan, coba cek mana yang harus segera diselesaikan. Kalo banyak yang harus segera diselesaikan, pilih yang mana yang impactnya paling besar. Itu lah yang dipilih.

Masalah keempat adalah salah mengidentifikasi masalah. Bisa jadi sebenernya hanya symptom. Ini menarik untuk dibahas. Dalam buku “what is your problem?” Yang sedang saya baca, ada kasus di mana pemilik sebuah gedung mendapatkan complain dari tenant-nya bahwa liftnya dirasa lambat. Kalo kamu menjadi pemilik gedung, apa yang kamu lakukan? Kalo kita melakukan problem solving yang biasa, pasti yang pertama dilakukan adalah: mencari akar masalah, kenapa lift tersebut lambat. Kemudian solusinya adalah bagaimana kita menciptakan mekanisme lift agar lebih cepat lagi. Atau kalau perlu kita mengganti vendor lift yang bisa lebih cepat. Ternyata… ketika di-reframing lagi. Masalah sesungguhnya bukan lift yang lambat. Ternyata para pengunjung dan tenant merasa bosan ketika menunggu lift. Jadi masalahnya bukan lambat, tapi bosan! Akhirnya solusinya sederhana: Memasang cermin, dan TV di area menunggu lift. Dan masalah pun solved, keluhan hilang! Dari cerita ini memberikan pembelajaran bagi kita bahwa dalam memandang sebuah masalah, kita harus memahami benar, apakah hal tersebut masalah yang sesungguhnya? Tekniknya nanti akan saya jelaskan pada tulisan selanjutnya.

Semua yang saya tuliskan di atas adalah masalah dalam proses mengidentifikasi masalah. Dan identifikasi masalah adalah proses untuk memilih masalah mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. UJungnya adalah kita bisa saja menyelesaikan masalah yang salah. Dan identifikasi masalah adalah salah satu skill yang dimiliki oleh seorang leader. Ingat, bahwa beda antara leader dan manager adalah kalau leader doing the right thing, sementara manager doing the things right. Kalau leader memiih masalah mana yang harus diselesaikan (the right things), dan manager memecahkan masalhnya dengan mencari akar masalah dan solusinya (doing the things right).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: